Monday, April 18, 2011

Vespa Exlusive II M. Fadli Yang Gak Butuh Torsi!


Buat main di trek lurus 800 meter, torsi bukan jadi menu utama. Malah, peran torsi coba diminimkan di Vespa Exlusive II milik M. Fadli ini. Alasannya, buat kejar power band lebih lebar dan nafas panjang.

Memang power band dibuat sempit, putaran mesin dari bawah ke atas cepat. Tapi bedanya, nafas mesin jadi lebih cepat habis. Seharusnya bisa bertahan hingga beberapa rpm ke depan, malah tidak jika power band dibuat sempit.

"Buat main di trek jauh, tentu harus sebaliknya dong,” ungkap Puguh Nuryanto dari Overtune di Komplek Departemen Koperasi, Cimanggis, Bogor, Jawa Barat. Doi, tunner yang memodifikasi.

Karakter ini bisa dilihat dari teriaknya engine. Setiap geberan yang dilakukan Fadli, mesin baru teriak di putaran atas. Tak seperti pacuan berlebihan torsi yang mau wheelie begitu gas langsung dibuka.

"Dari gigi I hingga gigi III, motor bisa wheelie sendirinya tanpa dipaksa. Itu pun, setelah sentuh rpm 8.000 ke atas ya,” aku Fadli yang pembalap supersports.

Buat hilangkan torsi dan manjakan power putaran atas, beberapa part kena sentuh. Paling utama, Puguh melakukan seting di blok silinder. Lubang transfer yang aslinya 51 mm dibuat jadi 48 mm. Lalu, lubang exhaust dibuat jadi 30 mm.

Selanjutnya, tunner berusia 38 tahun ini menerapkan teknik hilangkan kompresi bawah. “Bagian dalam crankcase sekitar kruk as dibuat lebih dalam lagi sekitar 2 mm pakai bor tuner,” jelas Puguh yang juga aktif di dunia drag bike Tanah Air.

Menurutnya, cara ini banyak diterapkan di pacuan motor GP125. Misalnya, di Yamaha TZ125. Sebab lebih lebarnya crankcase bisa membuat semburan bensol lambat naik ke piston.

Maklum, jaraknya sekarang kan lebih luas ketimbang standar. So, tenaga di putaran bawah jadi sedikit lebih lambat keluar. “Tapi, ketika power keluar, langsung sejadinya,” aku Puguh sembari bilang kalau Vespa ini mengadopsi kompresi 7,2 : 1.

Buat mengimbangi power yang baru teriak di putaran atas, magnet ringan jadi jawaban. Tentunya, agar putaran bawah enggak belet alias lemot. So, magnet Yamaha RX-King diandalkan. Dibikin lebih ringan lagi hingga bobot jadi 400 gram.

Magnet ini dibantu pengapian tipe DC total lost dari aki 12V 7 ampere. Lalu, CDI pakai merek BRT I-Max punya Suzuki Shogun 125. Biar lebih mantap lagi percikan api di ruang bakar, koil Yamaha YZ125 ikut diandalkan.

Tak tertinggal, pengabuatan kinerja piston 62 mm dibantu karburator merek UMA berikut spuyer 60/148. Karbu ini bikinan Malaysia. Bentuknya serupa Keihin PWK. Tapi, di UMA, ada power jet buat bantu suplai bensin di putaran atas.

So, lewat semua ubahan ini, pacuan punya karakter masuk gigi tanpa kopling. Kecuali start dan turun gigi ya. "Karena close rasio gak akan dapat. Jika ditarik kopling, rpm akan naik tinggi. Perpindahan gigi-gigi rasio jadi gak pas,” jelas Fadli yang berusia 25 tahun tapi masih melajang ini. Hayooo...

(motorplus-online.com)

No comments:

Post a Comment